Pengikut

Rabu, 17 Oktober 2012


TINJAUAN SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM
 PADA MASA BANI BUWAIHI
Oleh Replianis.

A.          Pendahulaun.
                         Masa kejayaan Bani Buwahy  merupakan era transisi berakhirnya kekuasaan bangsa Arab di Kekhalifahan Abbasiyah. Selama mengendalikan kekuasaannya di Baghdad, Dinasti Buwahy turut berjasa mengembangkan supremasi peradaban Islam di bidang ilmu pengetahuan dan sastra. Sederet ilmuwan, pemikir dan ulama besar lahir di era kekuasaan Buwauhi di kota Baghdad. Ulama, pemikir dan ilmuwan penting yang muncul di era kejayaan Buwayh antara lain; Al-Farabi (wafat 950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), Al-Farghani, Abdurahman Al-Shufi (wafat 986 M), serta Ibnu Maskawih (wafat 1030 M).[1] 
                        Sumbangan ilmuwan dan intelektual yang berada dalam lindungan dan dukungan para penguasa Buwayh ini bagi pengembangan ilmu pengatahuan sungguh sangat besar. Tidak cuma itu, Philip K Hitti dalam bukunya History of Arab juga mencatat peran penting Bani Buwaihi dalam pembangunan di kota Baghdad. Menurut Hitti, di era kekuasaannya, para penguasa Buwaihy berhasil membangun masjid, rumah sakit, serta kanal-kanal. Pembangunan infrastruktur itu turut membuat sektor ekonomi, pertanian, perdagangan dan industri menggeliat.[2]
                        Menurut Ensiklopedi Britannica Online, penguasa Buwayh sempat membangun bendungan jembatan yang membelah Sungai Kur dengan Shiraz. Jembatan itu mampu menyambungkan Dinasti Buwayh dengan  kerajaan lainnya seperti Samanid, Hamdaniyah, Bizantium dan Fatimiyah. Penguasa Buwayh pun turut menopang geliat seni dan kesusasteraan.[3]

Masa pemerintahan Buwayh yaitu periode ketiga dari pemerintahan bani Abbasiah, dimana kekhilafahannya dikuasai  oleh bani Buwaih  sejak 334 -447 H/945-1055 M kehadiran bani Buwaihi berawal dari tiga orang putera Abu Syuja' Buwayh, seorang pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu Ali, Hasan dan Ahmad. Untuk keluar dari tekanan kemiskinan, tiga bersaudara ini memasuki dinas militer yang ketika itu dipandang banyak mendatangkan rezeki.[4] sehingga sebagian besar ahli sejarah Islam merangkai awal dari kemunculan bani Buwayh  dala paggung sejarah bani Abbas bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali bin Ahmad dalam psukan Makan Ibn Kali dari dinasti Saman, tetapi kamudian berpinadah ke kubu Mardawij. Ketika Mardawij  tebunuh pada tahun 943, Ali sudah menjadi penguaa Isfahan dan sedang berusaha menjadi  penguasa yang mandiri. Kira-kira dua tahun kemudian ketiga orang bersaudara ini menguasai bagian barat dan barat daya Persia, dan pada tahun 945, setelah kematian jendral Tuzun, penguasa sebenarnya atas Baghdad, Ahmad memasuki Baghdad dan memulai kekuasaan  Bani Buwaih atas khalifah Abbasiyah. Gelar  mu’izz al- Daulah  (yang memuliakan Negara) diperolehnya dari khalifah. Ia memerintah Baghdad selama leih dari 24 tahun, sementara kedua saudaranya menguasai bagian kerajaan sebelah timur.[5]  Sebenarnya keturunan Bani Buwayh adalah  keturunan kaum Syi’ah, dan bukan keturunan Bani Abbas secara langsung pada saat itu. Melihat kekuasaan Bani abbas yang semakin melemah di dalam bidang pemerinahan atau perpolitikan yang mngakibatkan timbulnya keinginan dari daulat-daulat kecil yang ada di bawah kekuasaan Baghdad. Kesempatan ini tidak kalah pentingnya bagi Ali sebagai pemimpin Bani Buwayh sehingga langkah awal yang dilakukan yaitu mulai menakkan di daerah-daerah Persia menjadikan Syiraz sebagi pusat pemerintahan. Ketika Mardawij  meninggal, Bani Buwayh yang bermarkas di Syiraz itu berhasil menalukkan beberapa daerah di Persia seperti Rayy, Isfahan, dab daerah-daerah Jabal. Ali berusaha mendapat legalisasi dari Khlifah abbasiyah Al- Radhi Billah, dan mengirimkan sejumlah uang untuk pembendaharaan Negara.Ia berhasil mendapat legalitas itu. Kemudian, melakukan ekspasi ke Irak, Ahwaz, dan  Wasith. Dari sini tetara Buwaih menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan .ketika itu ,Baghdad  dilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir Al Umara’ antara wazir dan pemimpin miiter. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibnu Buwaih yang berkedudukan di Akhwaz permintaan itu dikabulkan, Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal 11 jumadil ula (334 H/945M). [6]

Buwaih bermahzab Syiah sehingga mereka patut menjadikan seorang khalifah dari syiah zaidiyah, akan tetapi mereka menerima kailafah Abbasiah. Sehingga timbullah pertanyaan apa yang menjadi penyebab semua itu?
Seperti yang dicantumkan dalam buku Al isy yusuf, tahun 1968 M yaitu mereka adalah orang yang berpandangan jauh, para sejarawan menyebutkan bahwa Ahmad bin Buwaih, pernah bermusyawarah dengan orang-orang untuk menunjuk seorang khalifah dari keluarga Ali. Namun, orang-orangnya mengingatkan dia agar menjauhinya mereka berkata, ”jika kamu membawa salah seorang diantara mereka, kamu pasti menjadi pembantu, dan dia akan menjadi pemimpin. Dailam adalah kelompoknya. jika dia menyuruh orang untuk membunuhmu.kanu akan ada didalam tangannya seperti cincin. Adapun ketika kamu membiarkan khalifah Abbasiah, kamu akan menjamin untuk dirimu seseorang yang bisa kamu kendalikan sesuai dengan kehendakmu. Kamu bisa memecatnya jika kamu mau untuk mengantikannya dengan yang lain kapanpun kamu mau. Orang-orang Dailam adalah kelompokmu.mereka tidak akan taat denga nama madzhab dan nama baiat yang ada didalam pundakmu.”
Dengan hal itulah Ahmad bin Buwayh menghindari penunjukan kalangan keluarga Ali sebagai Khalifah. padahal pada awalnya rakyat Irak telah menerima Abbasiyah sebagai khilafah yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka, atau jabatan khalifah adalah jabatan yang bersifat mutlak di dalam agama yang tidak akan pernah bisa diganggu gugat, dan inilah alasan untuk memnerima bani Abbasiyah menjadi khilafah pada masa itu.
Dengan berkuasanya Bani Buwaih, aliran Mu’tazilah bangkit lagi, terutama diwilayah Persia, bergandengan tangan dengan kaum Syi’ah. Pada masa ini muncul banyak pemikir Mu’tazilah dari aliran Basrah yang walaupun nama mereka tidak sebesar para pendahulu mereka dimasa kejayaannya yang pertama, meninggalkan banyak karya yang bisa dibaca sampai sekarang. Selama ini orang mengenal Mu’tazilah dari karya-karya lawan-lawan mereka, terutama kaum Asy’ariyah. Yang terbesar diantara tokoh Mu’tazilah periode kebangkitan kedua ini adalah al-Qadi Abd al-jabbar, penerus aliran Basra setelah Abu Ali dan Abu Hasyim.[7]

Di dalam masalah politik yang berperan penting hanya bani buwaih yang memegang jabatan penting pada Amir Al umara’, sehingga orang-orang bani Buwaih menetapkan orang-orang Abbasiyah dalam pemerintahan, namun tidak memberikian kekuasaan. Mereka melarang khalifah memperoleh pendapatan untuk kemudian mereka ambil sendiriu.Mereka ,membuat pasukan khusus untuk khlifah yang berjumlah lima ribu dirham sehari. Hal tersebut terjadi dimasa Almustakfa.[8] Sejak saat itu para khalifah tunduk kepada Bani Buwayh, sehingga para khalifah Abbasiyah benar-benar tinggal nama saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih.

4.     Bidang ilmu pengetahuan.
Kekuasaan Buwayh mencapai puncaknya dibawah kepemimpinan ‘Addud  Ad-Daulah (949-983). Hal yang menarik  yang bisa kita banggakan dalam pola dan tatanan kehidupan masyrakat pada masa Dinasti ini. Sebagaimana para khalifah Abbasiyah periode pertama, para penguasa Bani Buwayh mencurahkan perhatian secara langsung dan sungguh-sungguh terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan. Para pangeran dan wazir Dinasti ini menjadi contoh dalam memberikan dukungan terhadap berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Pada masa tersebut, Baghdad sebagai tempat berkembangnya Dinasti tersebut mengalami kemajuan yang sangat pesat. Baghdad menjadi pusat ilmu pengetahuan.  Kedekatannya dengan para Ilmuan menjadikan loyalita mereka terhadap pemerintahan sangat tinggi. Istana pemerintahan pernah dijadikan sebagai tempat pertemuan Ilmuwan saat itu. Bahkan saat itu dibangun Rumah sakit besar yang terdiri dari 24 orang Dokter, dan digunakan juga sebagai tempat Praktek mahasiswa Kedokteran saat itu.  Di bidang sastrawan Para penguasa saling berlomba-lomba dalam mengumpulkan para sastrawan untuk menyampaikan syair-syair indahnya di istana. Sehingga bukan sebuah keanehan jika sarjana dan penyair sering kali melakukan pengembaraan dari satu istana menuju istana yang lain.
Para penguasapun sering mengumpulkan para kerabatnya dalam sebuah majlis atau pertemuan untuk mempelajari disiplin ilmu pengetahuan seperti; ilmu kalam, hadits, fikih, kesusastraan dan lain sebagainya dengan dipandu oleh para guru yang diundang secara khusus ke dalam istana. Selain di istana, pertemuan dalam membahas ilmu pengetahuan juga diselenggarakan di masjid-masjid, rumah-rumah pribadi, kedai-kedai, alun-alun bahkan di taman-taman kota
   Pada masa Dinasti Buwaihy merupakan titik puncak dari apa yang disebut "humanisme", karena betapa kosmopolitannya atmosfer budaya pada saat itu. Percampuran pemikiran di antara orang-orang Islam, Kristen, Yahudi, Kaum Pagan, kelompok-kelompok aliran teologi dan kelompok religius sangat menghargai pluralitas. Titik tolak kesepakatan mereka adalah bahwa "ilmu-ilmu kuno" adalah milik seluruh umat manusia dan tidak ada satu kelompok religius atau kultural satu pun dapat mengklaim kepemilikan eksklusif ilmu-ilmu tersebut. Dimana semangat pluralitas itu mereka kembangkan atas prinsip "shadaqah" yang diartikan "persahabatan" yaitu sebuah prinsip hubungan lintas budaya dan religius yang mendasarkan hubungannya pada kemanusiaan. Ini berarti hubungan mereka tidak didasarkan pada ras, suku atau agama, tetapi pada kenyataan bahwa mereka adalah manusia.[9]
. Pada masa Bani Buwaih ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya, al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-'Ala al-Ma'arri (973-1057 M), Al-Kindi, Sijistani, Nadhim, Al-Amiri, Ibn Rusyd dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Dan pada masa ini  dilakukan penerjemahan terhadap ratusan karya-ilmiah Yunani-Romawi ke bahasa Arab oleh Hunain Ibn Ishaq, penerjemah Kristen Nestorian, Yuhanna ibn Hailan dan sebagainya. Yang bertempat di Baghdad dan Iran sebagai pusat peradaban Islam dengan beragam istana, dibawah kontrol dinasti Buwaihy yang dipimpinan oleh 'Adhud Al-Daulah.  

     Karya-karya Ilmuan besar diantaranya:
1).  Al-Farabbi (w.950 M)
                   Al-Farabi tempil sebagai filosof yang menguasai berbagai cabang ilmu seperti : ilmu alam, matematika, astronomi dan lain-lain. Aliran filsafat Yunani yang mempengaruhinya ialah filsafat Plato, Aristoteles, dan Neoplatonisme. Selain itu ia sebagai seorang muslim yang telah mempelajari pelajaran agama dengan baik ia pun mendapat pengaruh dari ajaran tersebut. Disini Al-Farabi juga menyesuaikan filsafatnya dengan ajaran islam, seperti : filsafatnya tentang kenabian ia mengakui adanya nabi, dan nabi itu lebih tinggi dari filosof. Dimana maksudnya nabi mempunyai mukzijat sedangkan filosof hanya menggunakan akal pikiran untuk berfilsafat. Dengan demikian dasar pemikiran filsafat yang digunakan Al-Farabi yaitu memadukan ajaran filsafat dengan ajaran agama.
karya-karya Alfarabi adalah
1.        Syuruh  risalah aainun al-kabir al-Yunani
2.        Al-Ta’liqat
3.        Risalah fina yajibu ma’rifat qabla ta’allumi al-falsafah
4.        Risalah fi itsbt al-mufaraqah

2). Ibn Sina (980-1033M),
            Ibnu Sina telah menghasilkan beberapa karya monumental di bidang ilmu pengetahuan,. Dengan demikian, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ketika berbicara tentang pemikiran Islam atau ilmu pengetahuan Islam, maka tidak terlepas dari kontribusi Ibnu Sina. Bahkan dapat dikatkan bahwa berbicara tentang Ibnu Sina berarti berbicara tentang pemikiran dan kejayaan Islam. Beberapa karya intelektual Ibnu Sina, dapat diklasifikasikan ke dalam 15 bidang ilmu yaitu: 1) Falsafah umum, 2) Logika, 3) Sastra, 4) Syair, 5) Ilmu-ilmu Alam, 6) Psikologi, 7) Kedokteran, 8) Kimia, 9) Matematika, 10) Metafisika, 11) Tafsir al-Qur’an, 12) Tasawuf, 13) Akhlak, Rumah Tangga, politik, dan nubuwwah, 14) Surat-surat pribadi, 15) Serba ragam
3). Ibn Maskawaih (w.1030M)
Ada beberapa prediksi yang dilekatkan pada ibnu Miskawaih, yaitu ahli bahasa dan sastra, penyair, intelektual profsional, seorang hakim yang bijak, sejarawan, filosof etika dan sastra, dan sufi. Tidak salah bila abu Hayyan al Tauhidi (400H)) mengatakan “Miskawaih adalah pribadi yang memiliki bahasa sastra yang indah, gagasan-gagasan yang segar, halus budi, mudah dipahami, ulet dan tidak banyak mengeluh, hati-hati dalam mendidik. Juga abu manshur al-tsalabi (421H) menerangkan bahwa ibnu miskawaih adalah pribadi mulia yang penuh keutaman, ahli sastra, ahli Balagoh dan penyair.[10]
          Miskawaih dikenal sebagai filosof etika dalam Islam. Karenanya, karya-karya yang dihasilkan adalah kebanyakan bercerita masalah pendidikan, pengajaran, etika yang utama, dan metode-metode yang baik. Adapun karya-karyanya:
1.        Tahdzib al-akhlaq wa tathir al-a’raq, sebuah kitab yang mendeskripsikan  etika dan filsafat social masyarakat terdahulu. Suatu bentuk pemilihan antara perilaku yang sesuai dengan syari’at  dan perilaku yang menyimpang,  beberapa pengalaman hidup yang dilaluinya, dan jalan metodologis kearah etika yang baik
2.        Kitab al-Sa’adah, sebuah kitab filsafat etika yang menjadi orientasi semua manusia. Kitab ini disusun sebagai hadiah bagi ibn al-Amid, gurunya di ray
3.        Kitab fawz al shagir, sebuah kitab pegangan untuk mmperoleh “keuntungan” yang besar dalam sekolah kehidupan
4.        Kitab fawz al-shagir, sebuah kitab pengangan untuk kehidupan sehari-hari
5.        kitab Jawidan khard, sebuah kitab Persia yang berisi tentang hikmah-hikmah dan sastra
6.        tajarib al-umam, sebuah kitab sejarah
7.        kitab uns al-farid, sebuah kitab ringkasan yang didalamnya dibahas kisah-kisah,syair-syair, hikmah-hikmah, dan perumpamaan-perumpamaan
8.        kitab al Sayr,  sebuah kitab sejarah perjalanan seseorang dan pelbagai problematika yang dihadapinya, serta dibubuhkan pula jalan keluarnya
9.        kitab al mustwfa, sebuah kitab berisi syair-syair pilihan
10.    kitab al-adwiyah al-mufrodah, al asy ribah, fi tarqibal-bajat min al-ath’imah, semuanya berbicara mengenai kedokteran, kesehatan dan giziyang baik untuk manusia[11]

5). Al-Afghani
Beberapa karyanya
1.        di bidang politik, yang mengajarkan bahwa semua umat Islam harus bersatu di bawah pimpinan seorang khalifah untuk membebaskan mereka dari penjajahan Barat..[12]
2.        Dibidang Agama,  Jamaluddin al-Afghani berpendapat, bahwa kesejahteraan umat Islam tergantung
a)      Akal manusia harus disinari dengan tauhid, membersihkan jiwanya dari kepercayaan Tahyul
b)      Orang harus merasa dirinya dapat mencapai kemuliaan budi pekerti yang utama
c)      Orang harus menjadikan aqidah, sehingga prinsip yang pertama dan dasar keimanan harus diikuti dengan dalil dan tidaklah keimanan yang hanya ikutan semata (taqlid).[13]
3. Ajarannya tentang Qada dan Qodar
               Menurut al-Jabr (fatalism), qada dan qodar adalah penyerahan diri secara mutlak tanpa usaha dan ini suatu ajaran baru (bid’ah) dalam agama yang dimasukkan dalam ajaran Islam oleh musuh Islam untuk suatu tujuan politik tertentu agar Islam hancur dari dalam. [14]

7). Al-Masudi (956)
Dikenal sebagai seorang sejarawan pengembara dan ahli geografi Arab. Buku-buku Karyanya adalah: Kitab Akhbar az-Zaman (sejarah dunia), Kitab al-Ausat (tentangn sejarah umum) kemudian kedua kitab tersebut digabung menjadi kitab Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin (Meadows of Gold and Mines of Precious Stones), Kitab at-Tanbih wa al-Isyraf (tentang filsafat alam dan teori evolusi).

8). Abu ar-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni (973-1048)
Nama lengkapnya adalah Abu ar-Rayhan Muhammad bin Ahmad al-Biruni. ia mahir matematika, astronomi, fisika, sejarah, geografi, bahasa, dan budaya. Buku-buku karyanya tentang sejarah peradaban India yaitu: Tahqiq ma li al-Hind min Maqulah Maqbulah fi al-Aql Au Mardzulah, Tarikh al-Umam asy-Syaqiyah, dan Tarikh al-Hind (sejarah Hindia). Karyanya dalam bidang matematika, Kitabal-Qanun al-Mas’udi fi al-Haya wa an-Nujum (astronomi geografi dan matematika). Dalam bidang filsafat, al-Irsyad, Tahdid Nihayat al-Amakin Litashih Masafat al-Masakin, dll. Beliau telah menulis karyanya sampai 138 karya. Sampai meninggalnya tahun 1050 di 

9). Abdurrahman bin Umar as-Sufi Abul Husayn
nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Umar as-Sufi Abul Husayn. Ia lahir tahun 903 M (291 H) di Rayy, Persia. Ia seorang astronom terkenal yang bekerja di istana bersama amir Adud al-Dawla. Karyanya yang terkenal adalah Kitab al-Kawakib ats-Tsabit al-Musawwar (tentang catalog bintang). Karya lainnya yang telah diilustrasi kembali seperti Notices at Extraits (oleh Causin de Parceval), Description des Etoiles Fixes par Abd al-Rahman as-Sufi (oleh H.C.F.C Schjellerup di St. Petersburg, 1874). Beliau meninggal pada tahun 986 M/376

10). Abu Ali al-Hasan bin al-Haytsam al-Basri al-Misri
nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Hasan bin al-Haytsam al-Basri al-Misri. Masyarkat Barat lebih mengenalnya dengan sebutan (al-Hazen 1973), Avenalan, Avenetan. Lahir tahun 1038 di Basrah, Irak. Ia adalah ahli fisika dan matematika terbaik. Selain itu ia menguasai beragam ilmu, seperti fisika, astronomi, matematika, pengobatan, dan filsafat. Pendidikan tingginya ia tempuh di Universitas Al-Azhar. Karya beliau dibidang Optik yaitu: Kitab fi Al-Manasit (Kamus Optika), buku-buku tentang lingkaran cahaya dan gerhana, tentang astronomi dll. Beliau wafat tahun 1039.[15]

          Tokoh-tokoh Kesusastraan Bahasa arab dan fersia
1.  Al-Ashfani, Abu al-Faraj (897-966
2.  Badi al-Zaman al Hamadzani (933-1007)
3.  Abu Hayyan at-Tauhidi (1018)
4.  Daqiqi (1020)
5.    Rudaqi (930-an)
6.    Al-Firdausi, Abu al-Qosim (920-1020
7.    Abu Sa’id ibn Abi al-Khair (1049.[16]

Kekuatan politik Bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama (tiga bersaudara) kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa berhak atas kekuasaan pusat.  Misalnya, pertikaian antara ‘Izz Al-Daulah Bakhtiar, putera Mu’izz Al-daulah dan ‘Adhad Al-Daulah, putera Imad Al-daulah, dalam perebutan jabatan amir al-umara. Perebutan kekuasaan di kalangan keturunan Bani Buwaih ini merupakan salah satu faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka. Faktor internal lainnya adalah pertentangan dalam tubuh militer, antara golongan yang berassal dari Dailam dengan keturunan Turki. Ketika amir al-umara dijabat oleh Mu’izz Al-Daulah persoalan itu dapat diatasi, tetapi manakala jabatan itu diduduki oleh orang-orang yang lemah, masalah tersebut muncul kepermukaan, mengganggu stabilitas dan menjatuhkan wibawa pemerintah.[17]



C.    Kesimpulan

Masa pemerintahan Buwaih yaitu periode ketiga dari pemerintahan bani Abbas, dimana kekhilafahannya dikuasai  oleh bani Buwaih  sejak 334 -447 H/945-1055 M, Di dalam masalah politik orang-orang bani Buwaih menetapkan orang-orang Abbasiyah dalam pemerintahan, namun tidak memberikan kekuasaan. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir-amir Bani Buwaih.
  pendidikan islam pada masa kerajaan buwaih berkembang pesat, hal ini  terlihat  pada masa  ini banyak bermunculan ilmuwan besar, di antaranya al-Farabi (w. 950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Abdurrahman al-Shufi (w. 986 M), Ibn Maskawaih (w. 1030 M), Abu al-'Ala al-Ma'arri (973-1057 M), Al-Kindi, Sijistani, Nadhim, Al-Amiri, Ibn Rusyd dan kelompok Ikhwan al-Shafa. Yang sebagian besar para ilmuwan tersebut muncul pada paruh terakhir Abad ke-4 H/ke-10 M, dibawah kontrol dinasti Buwaihiyyah yang dipimpinan oleh 'Adhud Al-Daulah.
Kekuasaan Bani Buwaih tidak bertahan lama, setelah generasi pertama (tiga bersaudara) kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak mereka. Masing-masing merasa berhak atas kekuasaan pusat dan juga terjadinya  pertentangan dalam tubuh militer,  ini merupakan faktor internal yang membawa kemunduran dan kehancuran pemerintahan mereka.



Daftar Pustaka


A.  Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Alhusna,1993
      G.E. Bosworrt Dinasti-dinasti Ilam. Bandung: Mizan, 1993
Harun Nasution . Ensiklopedi Islam.(Jakarta : Djambatan, 1992). H. 186.
Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: PT Raja Grapindo, 1985
 M. Sholihan Manan dan Hasanuddin Amin, Pengantar Perkembangan Pemikiran Muslim (dalam Studi Sejarah), PT. Sinar Wijaya, Surabaya, 1988
Murtiningsih, Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani, 2008
Muhammad jalaluddun Surur, Tarikh al-Hadharah al-Islamiah .Fi al-ayarq al-fikral, 1976
Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, Bandung: Mizan, 2002
Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam. Bandung: Nuansa Cendikia, 2004
Wahyu Murtiningsih, Biografi Para Ilmuwan Muslim.Yogyakarta: Insan Madani, 2008.






[1] A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Alhusna,1993). H. 324
[2] Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam ( Jakarta: PT Raja Grapindo, 1985). H. 231
[3]G.E. Bosworrt Dinasti-dinasti Ilam (Bandung: Mizan, 1993). H 122-123.
[4]Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004),  hal. 181   
[5]Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, (Bandung: Mizan, 2002), hal. 64   
[6]Omar A. Farrukh dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004),  hal. 187 
[7]Ibid.  hal. 188 
[8] Ibit.  hal. 190 
[9] Muhammad jalaluddun Surur, Tarikh al-Hadharah al-Islamiah (Fi al-ayarq al-fikral-Arabi, 1976). H. 51

[10] Tholhah.Imam “Membuka Jendela Pendidikan hal 240
[11] Ibid.  hal 240-241
[12] M. Sholihan Manan dan Hasanuddin Amin, Pengantar Perkembangan Pemikiran Muslim (dalam Studi Sejarah), PT. Sinar Wijaya, Surabaya, 1988, hlm. 128
[13] Ibid. 131
[14] Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam, Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 2001, cet.13, hlm. 47
[15] Wahyu Murtiningsih, Biografi Para Ilmuwan Muslim,(Yogyakarta: Insan Madani, 2008.).
[16] Murtiningsih, Biografi Para Ilmuan Muslim. (Yogyakarta: Insan Madani, 2008), hal. 45
[17] Harun Nasution . Ensiklopedi Islam.(Jakarta : Djambatan, 1992). H. 186.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar